Selamat Datang

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis"- Imam Al-Ghazali.

I, Myself

believe that words have a power to change people's mind

  • Akhmad Saputra Syarif

    Networking is priceless asset. As such, if there is a chance that can widen my social circle, I will take it directly. Therefore, do not be hesitate to give me a call through several sosial media bellow.

'The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why'

Mark Twain

all of my writings

“If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it.” Toni Morrison

  • I wayan Sutawan

    Bagian terpenting dari tubuh manusia bukanlah jantung atau otak namun imajinasi" (Einstein)
    Penelitian serupa tapi dengan maksud yang berbeda "untuk membuat mesin yang dapat membantu militer mengangkat senjata yang beratnya luar biasa" dilakukan oleh penelitih di USA. Di negara ini, dengan niat memberi makan istri dan anak "I wayan Sutawan" tampa ia sadari mengembangkan tehnologi yang sama dengan Pemerintah USA. Saya sangat percaya, bukan hanya negara ini diberkati tuhan dengan sumber daya Alam yang melimpah namun juga kemampuan yang luar biasa dari banyak pemudanya.Maka tidak salah ketika banyak tokoh di dunia meramalkan Indonesia akan menjadi negeri yang mendominasi dunia.
    Mari kita kembali kebeberapa tahun silam, saat bumi pertiwi belum dipanggil dengan sebutan Indonesia namun Nusantara. Kerajaan Majapahit dengan patih gajah madanya mengembangkan wilayah dan pengaruhnya sampai batas yang tak terduga sebut saja Singapura, Myanmar Kamboja, juga China. Belum lagi negara ini dahulu tempat lahirnya karya sastra yang dipuja dunia saat ini seperti I LA GALIGO yang menjadi naskah terpanjang di dunia. Maka tidak salah ketika beberapa toko sentral dunia menyebut Indonesia sebagai "Atlantis yang hilang".
    Saya sering membayangkan apa jadinya Indonesia jika dapat mengoptimalkan sumber Daya Alam juga Manusianya. Uranium contohnya sebagai komoditi m
    ahal yang sangat diganrungi oleh banyak negeri maju, terkubur banyak diperut tanah air, kisaran 60 ribu ton. Sebagai bahan bakar utama Nuklir, Uranium akan menghemar besar-besaran pengeluaran negara dalam pemamfaatan tenaga listrik untuk kebutuhan masyarakat. Hal ini disuppor dengan kondisi alam Indonesia yang hanya dua musim saja, sehingga resiko dapat diperkecil. Miskipun sebagian ketakutan dikarenakan Indonesia berada di "Ring of Fire" namun beberapa daerah dapat di jadikan alternatif.
    Melangkah ke Sumber Daya Manusia di Inodesia, saya meyakini hal ini tidak dapat di pandang sebelah mata di keranakan banyak pemuda Indonesia telah meunjukkan "tajinya" di Mata Dunia sebut saja beberpa orang yang telah mengharumkan nama negeri dengan memenangkan kompetisi Sains dan Tehnology bahkan beberapa diantara mereka menetap di luar negeri karena kemampuan mereka tidak di ragukan oleh banyak perusahan berskala Internasionla. I Wayan Sutawan, membuka lebih lebar mata saya hari ini, bagaimana bisa berbekalkan kempotensi STM dan peralatan yang terbatas dpat membuat tangan ropot yang di sambungkan lansung dengan sinyal otak manusia. Di tengah ketakjuban saya, ada rasa miris yang terkadang menyat, I Wayan Sutawan merupakan salah satu contoh dari banyak pemuda berbakat negeri ini yang tak dilirk oleh pemerintah. Sudah selayaknya "Sendi-Sendi vital" negeri ini di kembangkan dan di majukan oleh Anak bangsa seperti minyak, emas ataupun gas, bukanya di percayakan pada bangsa lain.
    Saya sampai detik ini menaruh Apreasiasi yang sangat besar pada Hugo Chavez (President Venezuela) yang memberanikan diri mendepak perusahan Asing dari Negaranya salah satu capaian pentingnya setalah mengnasionalisasikan adalah penerimaan di sektor energi yang meningkat pesat. Pertanyaanya kemudian adalah, apakah Jokowi seberani Hugo Chavez ? Mari kita mulai hari ini dengan Freeport yang jatuh tempo pelepasan sahamnya pada beberapa hari yang lalu, dan selanjutnya mari kita susul Venezuela dengan mengnasionalisasikan pula ExxonMobil OilIndonesia, PT Newmont Nusa Tenggara, BritishPetroleum, Chevron Corporation, British Gas International Ltd, Conoco Indonesia, Phillips Oil Company, Shell Companies in Indonesia, Total Indonesia E & P, Unocal Indonesia. Juga perusahaan asing yang menguasai pertelekomunikasian seperti PT Indosat, perusahaan aluminium PT Inalum Indonesia, perusahaan kelapa sawit Malaysia yang merusak hutan di Sumtera, Kalimantan, dan Papua.
  • Ibu-ku adalah Televisi

    Seorang anak terlahir dengan memanggil ibu pada sebuah kotak, yang manusia sebut televisi. Tiap hari anak itu menyusu banyak hal, kadang berita bohong, sinetron konyol atau permainan suami-istri. Ayah anak itu sekumpulan jejak yang meninggalkan bekas sesat di ruang tamu, kadang pula di kamar mandi lalu kemudian menghilang.
    Seisi rumah baginya hanyalah kaleng kosong, tak memiliki arti. Sehingga televisi selalu menjadi ibu yang sepertinya baik, menawarkan susu yang sebetulnya anggur. Umur adalah hal yang tak bisa ia hitung karena anak itu lebih pandai berciuman dari pada menghitung. Teman baginya adalah tempat praktik, praktik segala hal yang diajarkan ibunya si televisi, kadang praktik bercerita bohong, praktik adegan sinetron dan juga tak lupa praktik permainan suami-istri.
    Di sekolah ia tak banyak bertanya. Baginya bertanya adalah mengambil masalah. Namun ia ingat sebuah pertanyaan dari gurunya, karena hal itu ia dapat tepuk tangan satu kelas. Apa namanya membela bangsa ? Nasionalisme, si anak cepat menjawab. Apa namanya membela tanah air ? Patriotisme, si anak menjawab lebih cepat. Apa namanya membela agama ? Si anak diam mikir sejenak, lalu menjawab, Terorisme ibu guru. Seisi kelas tepuk tangan, termasuk ibu guru dengan bangga.
  • Catch Me If You Can

    Seharusnya saya sudah memaksakan diri untuk tidur agar tidak terlambat masuk kelas esok pukul 6 pagi, seperti 3 bulan terakhir. Namun filem ini meledakkan isi kepala saya, bukan karena aksi "Ganteng" yang banyak di-pertontonkan artist korea pada hari ini, namun saya merasa filem ini mengartikan dengan sangat jelas mengenai "Kebebasan" ..
    Kebebasan untuk menjadi yang kita inginkan, hal ini terkadang menjadi hal yang sangat sulit bukan dikarenakan kita tidak memiliki kesempatan, karena Tuhan telah menyediakan Bumi yang sangat luas untuk kita dapati, namun karena kita selalu merasa "Menjadi sama sudah cukup". Pemeran utama dalam filem inipun menentang seluruh hukum dunia yang membuat orang menjadi sama, ia tampil berbeda dengan memilih pekerjaan yang disukainya dari pilot, dokter bahkan pengacara dengan ijazah, sertivikat dan dokumen yang ia buat sendiri.
    "Catch me if you can" adalah filem tahun lampau, namun seluruh tim dalam filem ini membuatnya abadi untuk dinikmati sampai saat ini, I highly recommend this movie, untuk berhenti sejenak memikirkan, apakah ukuran kamar kita sekarang sudah cukup menampung isi kepala kita ?Catch 
  • Appel ke 2, Setelah Kisah Adam.

    Ada dua buah appel yang merubah nasib manusia. Appel yang pertama dimakan oleh adam sehingga manusia turun ke bumi dan appel kedua yang dibuat oleh Steve Jobs.
    Kalimat itu dikatakan seseorang kepada saya pada saat kululusan bangku SMA, dan sejak hari itu tidak satu berita dari Steve yang saya lewatkan bahkan berita duka atas kepergiannya beberapa tahun silam. Saya selalu percaya setiap manusia adalah tokoh utama dalam kehidupan mereka masing-masing, begitupula Steve Jobs.
    Mencintai adalah bahasa yang kaku, sulit dimengerti baginya. Di depak dari keluarganya pada saat bayi karena tak diinginkan, di depak dari APPLE-perusahan yang ia bangun dari keringatnya, menjalani hubungan yang sulit dengan keluarganya membuatnya berkali-kali harus bernafas lebih panjang tapi kata "menyerah tak pula kunjung keluar dari mulutnya".
    Tahukah kau kawan, menjadi sukses ukurannya adalah bukan bakat tapi kerja keras dan Steve Jobs memegang teguh perihal tersebut. Maka tidak salah jika hari ini, orang yang berkali-kali dicampakkan oleh hidup, menjadi salah satu orang yang berpengaruh di dunia.
    Film "Steve Jobs" ini merupakan beberapa filem yang mengisahkan tentang hidupnya namun untuk yang satu ini betul-betul menyita perhatian saya. Jangan bilang orang sukses seperti Steve Jobs sudah tak memiliki masalah lagi, bukankah semakin tinggi sebuah pohon maka angin yang menerpanya juga semakin kencang. Tapi bukan pada masalahnya, tapi bagaimana ke-gigihannya dalam menghadapi masalah yang perlu kita pelajarai bersama. Jadi mari menyempatkan waktu sebentar menonton filem ini 
  • Robin-Hood And Lance Amstrong

    Saya tak pernah menyangka ada kisah yang menyita banyak mata tepatnya dalam lomba sepeda dunia, beberapa tahun silam tanpa saya sadari sama sekali ..
    Lance Armstrong, bagi banyak penderita kanker adalah bagaikan dewa. Kenapa tidak, kemauannya yang sangat keras untuk menjuarai kejuaraan sepeda dunia setelah perjuangannya melawan kanker yang dimilikinya berujung dengan sangat sempurna, dikarenakan kemenangannya dalam kejuaran itu yang diraihnya 7 kali berturut-turut, sangat susah dipercaya kemenangan yang dilakukan oleh manusia sebanyak 7 kali di olahraga yang terkenal menguras banyak tenaga, It was extremely unpredictable situation.
    Segera, Armstrong menjadi figure yang kokoh untuk banyak penderita kanker lainnya di dunia, bahkan dikisahkan ada seorang wanita US yang telah menyerah dalam hidupnya menghadapi penyakit ini, namun setelah menyaksikan Armstrong mengayuh sepedanya, ia-pun kembali mengayuh dirinya untuk tetap menghadapi hidup.
    Namun, kisah ini sangat menyakitkan, pada tahun 2013 di seluruh hadapan mata dunia, Armstrong mengakui berlaku curang dengan mengkonsumsi obat-obatan meningkatkan stamina (Doping) di semua laga yang telah di laluinya, serentak berita inipun menjadi top headline diseluruh media massa. Tidak lama sebelum hari itu Badan Anti Doping Amerika Serikat (USADA) mengeluarkan larangan se-umur hidup Armstrong untuk mengikuti kompetisi kembali, bahkan Persatuan Sepeda Internasional (UCI) mencabut semua gelar juara Armstrong, termasuk 7 gelar juara dunianya.
    Menyakitkan, sangat menyakitkan untuk banyak orang yang telah menghadapi sakit kankernya dari kisah ajaib Armstrong yang mereka pegang kuat dan harus menanggung kekecewan, termasuk anak-anak di rumah sakit kanker yang Armstrong sering datangi.
    Kisah ini mengingatkan saya akan cerita terkenal Robin Hood yang mencuri dari orang kaya lalu memberikannya ke-orang miskin, namun kisah Lance Armstrong adalah kisah Robin Hood yang tidak berujung bahagia.
  • Surat untuk kawan Lama


    untuk kawan lama, bung LaOde Irfan Herdiansyah
    Bagaimana kabar makassar hari ini? Bagaimana kabar masyarakat pesisir pantai Losari yang terakhir kau coba bela? Maaf kawan, lama tak menyapamu lagi melalui tulisan-tulisan atau perbincangan keritis mengenai negara kita. Bukan nurani tak ada lagi, tolong jauhkan perasangka itu, namun terkadang langkah prioritas dan massif perlu kita lakukan dalam hidup, dan saya sedang mencoba melakukannya dalam hidup saya.
    Namun seperti bajing yang lama tak lagi melompat, saya tiba-tiba merindu teriakan yang biasa kita lakukan bersama di jalan-jalan Makassar. Malam ini sungguh terlambat sekali saya mencermati situasi, seakan tak pernah habis saja masalah mencuat di negara yang sebagian orang percaya atlantis ini. Fokus saya malam ini tentang MKD dan DPR akhir tahun kemarin, saya patut mengkaui ketidak cekatan saya mendapatkan informasi yang sempat mencengankan ini. Tak henti malam ini saya mebolak-balik halaman youtube dan beberapa refrensi yang saya punyai mengenai masalah ini. Selain miris sebab kembali masalah ini mencuat di karenakan "dugaan" penghianatan onknum petinggi negara yang telah di percaya rakyat kembali muncul.

    Saya menyadari kesan miris pasti kita rasakan bersama, namun ada sebuah ilustrasi yang muncul dalam kasus ini yakni "Orang Baik Negeri Ini belum Habis Bro". Mari mengambil Akbar Faizal sebagai contohnya, selain beliau merupakan orang yang berasal dari kampung halaman kita, juga ke gigihannya dalam meng-golkan aspirasi rakyat pada kasus ini patut mendapat apresiasi yang besar. Kepiawaian beliau dalam menutur argumen dengan cermat, tajam, dan cerdas namun juga diimbangi oleh sopan santun yang penuh dengan perasaan bersahabat membuat saya merindukan aura forum aspirasi tempo menjadi penjabat lembaga ke-mahasiswaan.

    Menjadi bagian masyarakat yang lebih luas ternyata lebih jauh sangat kompleks dari pada mengurus tatanan kenegaraan kampus, namun tak ada yang lebih saya sukuri sekarang selain mengambil bagian bersama-mu mengangkat genggaman ke langit sewaktu kuliah kemarin dikarenakan saya sekarang menyadari menjadi agent of change ternyata tak cukup di kampus namun kita butuh merubah hal yang berskala lebih besar dan juga lebih melibatkan banyak orang tertindas, membangun Negara ini contohnya.


    Kawan, tidak capek kah kau melakukan pergerakan dalam sektor hilir? mari melakukan yang lebih besar, mari melakukan pergerakan dalam sektor muara hulu namun tentu saja dengan lebih banyak tantangan bukan lagi iming-iming beasiswa ataupun angka bagus di ijazah yang menjadi cobaan seperti di kampus kemarin, namun surga duniawi bro! harta, tahta dan wani*a. Beberapa kawan telah mendahului kita melakukan pergerakannya,Nur Indah Sari Pratiwi dan Itha Rista Suwardi yang sebentar lagi menjadi pondasi negeri ini, menjadi ibu dan pendidik generasi pelanjut negeri ini. Bagaimana dengan kita? Apa agenda berikutnya ?
  • Sakit ..


    Hilang-nya hubungan diri pribadi dengan hal yang bersifat duniawi, benar-benar terasa saat sakit, merasai dosa adalah hal yang paling sering terjadi. Namun, beruntung-nya manusia yang mempercayai tuhannya adalah yang satu, karena memahami bahwa ada kekuatan yang besar yang mengatur alam semesta dan isi-nya menjadi kenikmatan sendiri mengingatnya pada saat sakit.
    Bukankah sakit di bentuk tuhan sebagai cara pengguguran dosa ? dan bukankah tuhan tidak akan memberikan beban kepada hambanya di luar kemampuannya ?
    Tuhan-pun menjadi kawan yang baik saat sakit dimana merasakan tiap detiknya adalah merasakan tiap berkahnya.Sakit ..

  • "On ne voit bien qu'avec le coeur"-dengan menggunakan hati, kita bisa melihat dengan jernih" (Antoine de saint-exupery) ..... 3 hari lebih kepala saya d jejaki oleh kisah teragedi kelam negeri ini-30 sept 65 dan Mei 98-peristiwa tersebut di ramu menjadi kisah elok yang perlu diapresiasi ... Kutipan lagu, puisi bahkan latar Paris yang indah menjadi segelumit kata yang menarik saya untuk membaca buku ini hampir tanpa jeda ... Namun, dibalik permainan kata Leila S. Chudori yang dahsyat terbersit kisah yang perlu anak muda negeri ini tahu, bahwa sejarah dekat hubungannya dengan penguasa sehingga mempelintir kebenaran masa lampau bisa menjadi hal yang mungkin ... Maka saya berani mengatakan buku ini menjejakkan perasaan kritis apakah sejarah yang tertulis saat ini merupakan perwujudan kongkrit yang terjadi dimasa lampau atau sejarah tersebut telah di bengkokkan untuk memenuhi hasrat perut, tahta dan popularitas para penguasa. Dan bila hal tersebut benar terjadi, maka membaca merupakan bentuk perlawanan ...
  • Doa (Lagi)


    Kita-pun pada akhirnya akan memahami bahwa pencipta adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan dalam menentukan nasib tapi bukankah telah dijanjikan kepada manusia bahwa usaha menjadi tekad yang dapat mempengaruhi hal tersebut.
    Menjadikan Tuhan sebagai penentu nasib, tak ayal membuat sebagain dari kita lupa akan perihal tekad dan usaha. Saya selalu percaya, Tuhan-pun menakar usaha kita dalam menentukan nasib manusia. Maka tetaplah percaya bahwa, InsyaAllah, Hasil tidak akan menghianati proses.
    Tak ada yang lebih baik teriring selain doa atas usahamu hari ini, itulah sebaik-baiknya dan sekeras-kerasnya usahaku. Seorang kawan pernah berkata kepada saya, bahwa Tuhan lebih menyukai mendengar doa kita dibandingkan pujian pada-nya, karena dengan doa, kita kemudian menyadari dengan sangat akan kekurangan dan keterbatasan kita sebagai manusia yang tak bisa lepas darinya, sang pencipta. Berdoa menjadi pelipur lara bahwa biarpun tak ada pundak untuk bersandar selalu ada tempat untuk bersujud.
    Ini nampak jauh lebih romantis bukan, kisah kasih seorang hamba dengan tuhannya, untuk mendoakan yang bukan dirinya namun hamba lainnya. Semoga sujud-mu adalah bisikan doa yang dapat didengar oleh langit. 
  • Bagaimana wajah Islam itu ?

    Bagaimana wajah Islam itu ? ... Dengan membubuhkan kata "cinta" pada novelnya, buku Habiburahman EL Shirazy ini sering ditafsirkan sebagai novel romanza belaka, namun sangat jauh dibalik itu semua. Novelnya menggetarkan hati pembaca, memaknai Islam dengan sifat kasih-nya, bagaimana tokoh utamanya yang seorang muslim menolong tetangganya mati-matian yang tak sama bangsa, ras dan juga agama. Bagaimana memaknai perasaan adalah tak lebih milik sang penguasa langit dan bumi. Ada rasa tergetar dan menerka, bukankah seharusnya Islam seperti ini ?
  • Merasakan Genangan dan Kenangan-Perjalanan Setahun Di desa diatas Awan.

    Hujan selalu saja menjadi misteri. Ia tak hanya membawa batang-batang dirinya yang serupa genangan, namun kamu pula yang berwujud menjadi kenangan. Saya-pun selalu menjadi pria bodoh yang masih mempercayai tahayul-dimana di antara hujan selalu ada lagu yang hanya bisa didengarkan oleh orang yang sedang rindu, beruntunglah, diri-mu hanya berjarak sejengkal, kali-ini. Namun entah, rindu ini masih terasa sesak.
    Kahaya, 1600 mdpl, dimana mandi adalah pilihan paling buruk diwaktu pagi karena dingin air-nya manyiksa setengah mati. Tawa anak yang tak pernah berujung henti, saat diri kami-saya dan 9 kawan lainnya menyatu dalam permainan asal yang kami spontan peragakan. Dari titik ini, saya merasakan perasaan yang mungkin saja sama dengan perterpan- tokoh fiksi ciptaan J. M. Barrie- alasan-nya mengapa menjadi dewasa adalah hal yang paling tak ia inginkan, mungkin saja, karena banyak tawa lepas itu. 
    Bermodal-kan jaket yang telah dahulu basah karena hujan grimis dipagi tadi, menemani pinta terletak-kan pada tahun yang baru. Tak banyak doa ter-antarkan, tak ingin menjadi sendiri di tahun berikutnya adalah yang utama dan pertama meloncat begitu saja, seperti kata ibu, jujur selalu menjadi kata pertama. Sembari tak ingin mencampuri pinta-mu pada tuhan, Amin-pun menjadi kata yang tak lupa ku sisipkan pada doa-mu, apa-pun itu.
    Tahun baru-pun datang, namun masih pada tempat yang sama. Tak ingin rasa-nya beranjak jauh dari kahaya, diri-Pribadi menemukan banyak hal yang selama ini hanya menjadi imaji, tempat tuk pulang. Kesederhanaan, dimana ukuran dari segalanya (persahabatan, kekeluargaan, senyuman, pertolongan) bukan-lah diukur dari seberapa banyak koin yang masuk di saku celana. Pintu rumah yang jarang di tutup, biarpun pemiliknya berkujung pergi jauh kesanak keluarga menjadi misteri lainnya, mengapa semua tetap aman-aman saja? mungkin karena (juga) konsep materi yang mereka tak kenal.
    Exchange Theory, dimana hidup adalah pasar raksasa. Hubungan Individu dengan lainnya di ukur dari seberapa banyak ke-utungan yang didapatkan. Konsep social yang sedang trend tersebut, tak lebih hanya menjadi teori di atas kertas putih yang siap dilemparkan ke keranjang sampah karena sama sekali tak berfungsi di tempat ini. Saya-pun belajar banyak, bahkan untuk menjadi manusia yang lebih berguna. 
    Syukur-pun terlintas, disetiap langkah pulang yang terasa berat ke-esokan harinya
  • Konspirasi Utuh di tengah malam sabtu

    Lingkaran sebuah bentuk yang selalu punya makna yang magis. Sebagian orang memaknai-nya sebagai bentuk dalam keadaan kontemplatif, jalan menuju pencerahan. Tercerahkan adalah kata yang menggambarkan diri pribadi di tengah lingkaran penuh berisikan tujuh orang di malam sabtu. 
    Konspirasi yang berujung turun-nya tirani, selalu dimulai dari percakapan kecil dengan jumlah pasukan-nya yang kecil pula. Ber-tujuh adalah jumlah yang sesuai untuk mengubah ideologi atau membentuk negara baru tanpa pemerintahan esok pagi. Namun, percakapan kali ini adalah jauh (belum) menyangkut perpolitikan Indonesia yang semakin tak sehat atau tentang Tuhan yang patut/tak patut untuk dibela, kali ini hanya tentang satu konspirasi kecil, Literasi.
    Eipsa Scientia Potestas Est-Ilmu pengetahuan merupakan kekuatan. Eropa patut mensyukuri penakluk-kan yang mereka lakukan atas Toledo (kota Intelektual Muslim) pada 1085 karena dengan begitu mereka terselamatkan dari abad Kegelapan. Harun Al-Rashid, khalifah termasyur Bagdad, menjadikan kotanya tempat terbaik dalam pengembangan sains, dengan mendirikan pabrik kertas pertama di luar China, hal tersebut berbuah hasil gemilang dengan rakyat yang sejahtera. Semua konsep sukses di atas, tak lebih karena kesadaran akan penting-nya literasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan literasi dengan kesanggupan membaca dan menulis.
    Janji-pun tercetus, sebuah kelanjutan konspirasi beberapa tahun silam dalam pengembangan literasi yang menjadikan Makassar sebagai awalnya-Blogger Kampus. Mungkin saja alasan kami tak se-romantis Bob Marley ketika di tanya alasannya untuk tetap manggung di tengah sakit-nya, ia pun menjawab, orang jahat tak pernah berhenti menabur kejahatan, lalu mengapa saya harus berhenti menebar kebaikan. Menjadi satu dalam sebuah langkah yang baik adalah sebuah ke-syukuran lainnya.
  • The Secret of everything (Refleksi Temu Blogger Kampus)

    Kita-pun paham bagaimana merapal bahagia kita masing-masing, namun yang kemudian kurang kita pahami adalah bagaimana kebahagiaan yang kita mengerti memiliki dampak yang bahagia pula pada orang lain. Setelah merantau cukup jauh, kemarin, dalam mengejar rupiah dan impian, kesadaran membawa saya pulang dengan segenggam rindu. Kesadaran itu berawal dari paham saya akan kematian. Bahwa nafas adalah hal yang tak utuh, ia dapat bertambah cepat namun juga dapat berhenti. Dan pertanyaan lanjutannya adalah, apa yang telah saya lakukan pada hidup?
    Impian saya lainnya-pun menjadi buram sesaat, ketika satu persatu orang-orang dalam lingkaran saya, mengucap kebahagiaan mereka masing-masing. “Saya menyukai berada di pedesaan, bukan karena kesunyian yang saya dapatkan, karena ada banyak hal yang saya lakukan, seperti di Papua dan Nunukan kemarin, di tengah masyarakat pedesaan saya merasa hidup” (Ma’aruf M Noor)”. Saya-pun menemukan perasaan Iri yang besar, dimana beliau telah bersama kebaikannya di usia yang muda, sementara diri-pribadi masih berkelut dengan impian yang barangkali tak bernilai banyak di khalayak nantinya.
    Tersadar seketika, selain menikah, yang menjadi impian kebaikan terbesar dalam hidup saya, tak ada hal lain yang tersisa untuk orang sekitar, yang harusnya mereka-pun berhak dari kebahagiaan yang saya miliki selama ini. Saya-pun teringat perkataaan “manusia tanpa kebaikan hanyalah se-onggok daging yang berjalan di atas bumi”. Pegal rasa-nya hati, namun di baliknya, ada pesan dan kesan yang harus di susun rapi menjadi impian lainnya di masa depan kelak, bukankah pula tak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan, bahkan untuk hal yang paling sederhana sekali-pun, seperti tersenyum.
  • Gambar Rumah kita hari ini


    ditepian lembaran carik kertas kumaikan coretan
    ku biarkan menari dengan bebas pensil warna tua yang ku genggam
    kutarik sebuah garis 
    garis hitam,  kubuatnya agak lancip, bundar dan persegi 

    ya .. kasih 
     ku gambar rumah kita hari ini 
    dengan banyak warna biru langit, warna yang kau suka
    ku ingat alasan kenapa kau suka warna itu
     Katamu kau ingin seperti langit luas yang sangat luas
    sehingga kupilih untuk jadi gagak agar bisa terbang dengan bebas menghampirimu
    dari sela - sela awan putihmu

    Halaman rumah kita yang cukup luas
    punya bayak pohon seperti pintamu
     tempat berlari - lari kecil anak kita 
     aku tak lupa kasih tentu saja  dengan ayunan yang memuat diriku dan kau
    untuk setiap sore bersama melihat langit senja dan seluruh kilauan jinggannya
    ya ... kasih tentu saja dengan anak kita

    Rumah kita cuma punya dua kamar
    Kubiarkan sederhana dan mungil kasih
    Agar kita sering berjumpa setiap hari
     ya ... tak lupa ada mushallah mungilnya jua seperti pintamu
    katamu agar ku sering - sering memimpin shalatmu

    Diantara setiap sisi rumah
    ditengahnya ada sebuah meja agak bulat, licin dan berstektur jua biru
    tempat dimana kau melakukan kebiasaanmu kasih
    dikala bosan kau suka membukkukan badanmu
    sambil menempelkan pipimu dimeja
    ya ... kasih paling tidak aku bisa menemanimu melakukan kebiasanmu
    sambil melihat mata kita satu sama lain
    dan membiarkan jam ditepi sana bedetak sepuas mungkin

    Rumah kita sangat indah kasih
    ku biarkan itu ada di sini
    diatas gambar
    Sampai kau datang kembali disini
    Menyapa Rindu  yang memenuh

    Rumah kita Elok kasih
    Kubiarkan itu ada disini
    dibawah pikiran imaji
    Sampai kau datang kembali disini
    Menyemai cinta yang berlebih

    Biarkan semua itu disini
    Sampai kaupun disini

    Jum'at 22 Juni 2012
    BM 101
    Fak. Psikologi 
    Sambil melihat Awan Putih
    yang mendekat



  • BUGIS


    Ketika saya mengucapkan kata bugis saya yakin kita semua punya persepsi yang berbeda – beda akan kata ini, apa lagi ditengah era globalisasi ini pasti banyak orang sudah merubah pemikirannya akan kata bugis. Kampungan, Lugu, Mitos, Ketinggalan zaman mungkin itulah sederet kata yang terlintas dikepala banyak orang sekarang ketika saya mengucapkan kata itu.

    Dahulu kata bugis merupakan hal yang sangat sakral apalagi bugis yang identik dengan orang yang yang idealis, loyal dan tak kenal takut merupakan segenap kebanggaan yang melekat disetiap hati orang – orang bugis, bahkan bangsa – bangsa dunia pernah ditakjubkan oleh orang – orang bugis yang menantang lautan untuk berlayar sampai ke afrika dan pertanyaanya sekarang apakah kebanggaan itu masih ada dihati kita semua. ? saya rasa tidak.

    Bukannya saya mau meragukan kalian “Sussurengku” tapi marilah kita semua berkaca kehati apakah kita tau betul arti dari “Tau Ugi’“, bagi saya bugis bukan hanya sebuah suku yang ada di Indonesia tapi bugis adalah sebuah kepercayaan, idealisme, hukum, norma yang selalu mengikat hati mengingatkan “Makkeadek”.

    “Sipakatau, Sipakainge, Sapaklebbi, Sipakarennu” jangankan mengaplikasikan ade’ (adat) ini, mengetahui artinya saja saya rasa beberapa orang bugis sekaranpun kewalahan, jangankan kita jauh – jauh membahas soal idealisme yang ada di konsep kata bugis, bahkan menggunakan bahasa bugispun sulit.

    Saya pernah diberi kesempatan keluar Sulawesi, saya menyempatkan diri untuk berbicara sedikit tentang budaya dengan beberapa orang dari suku yang berbeda, saya sangat bangga jadi orang indoensia, budaya suku mereka sangat kental bahkan dibeberapa tempat umum dikota besar yang saya datangi mereka tetap menggunakan bahasa daerah mereka, namun kebanggan itu harus luntur ketika saya harus pulang kesulawesi, jangankan ditempat umum seperti kampus, mol, pasar, restournt, dirumah kita sediri bahasa bugispun tak pernah terngiang.

    Belum lagi ketika saya berbicara tentang perempuan – perempuan bugis kita, bukannya saya mau mendeskriminasikan “ Susurengku’ “ tapi arti dari seorang perempuan bagi suatu suku sangatlah penting, perempuan kalau boleh saya analogikan seperti sebuah pondasi suatu suku, jika pondasi ini kuat maka bertahanlah suku tersebut namun jika pondasi ini lemah tunggulah hilangnya suku tersebut karena setiap orang – orang bugis yang kuat pastilah lahir dari setiap wanita – wanita bugis yang kuat pula.

    “ Makkunrai’ “ (perempuan) banyak hal yang tersirat dari setiap geraknya, saya jujur terkadang rindu dengan sosok wanita bugis seperti tenri abeng, wanita yang di ceritakan dikehidupan sawerigading ayah lagiligo cerita kebanggan bugis, epik terpanjang didunia, tenri abeng diceritakan merupakan sosok wanita yang cantik parasnya, dan pemegang teguh ade’ bugis, namuan apakah masih banyak wanita – wanita bugis sekarang seperti tenri abeng ? saya rasa tidak.

    Baju bodoh yang selalu indah dikenakan wanita bugis telah berganti dengan pakaian terbuka yang menunjukkan setiap lekuk tubuhnya yang bagi orang bugis tubuh wanita merukan kesakralan yang sangat mutlak.

    Bahkan anak – anak generasi penerus “Tau Ugi” dari kecil dipaksa menghapalkan banyak kosa kata bahasa bangsa lain dibandingkan bahasa ayahnya, bahasa neneknya yaitu bahasa bugis.

    “ Padecengi’ Magatti “ (perbaiki cepat) sebelum terlambat, “ Iga kalo Tania idi’ Maneng” (siapa lagi kalau bukan kita semua) yang melanjutkan darah bugis ini, “ Warani (Berani), Getteng (kuat), ada tongeng (Jujur) , sugi (Kaya akan segala hal), macca’ (Cerdas) “ saatnya hal – hal itu kita peraktikkan dalam hidup kita dan kita perkenalkan kepada generasi penerus kita karena bagi “ Tau Ugi’ “ seduah “ Ade’ “ sangatlah penting.

    Tulisan ini merupakan cerminan ketakutan saya akan nasib bugis, saya takut suatu saat ada masa dimana arti kata bugis sudah mulai tergerus sehingga ada seseorang yang nantinya menyesali kelahirannya karena ia lahir dalam lingkup orang bugis, saya sendiri sangat bangga lahir dalam keluarga orang bugis, dan saya harap kebanggan itu dapat dirasakan oleh semua orang - orang bugis.

    Terimakasih ,,

    Pengunjung

    Akhmad Saputra Syarif. Powered by Blogger.

    Daftar Teman