Selamat Datang

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis"- Imam Al-Ghazali.

I, Myself

believe that words have a power to change people's mind

  • Akhmad Saputra Syarif

    Networking is priceless asset. As such, if there is a chance that can widen my social circle, I will take it directly. Therefore, do not be hesitate to give me a call through several sosial media bellow.

'The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why'

Mark Twain

all of my writings

“If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it.” Toni Morrison

  • Tantangan kamis malam


    Suasana makin malam di makassar, tak ada kopi malam itu dikarenakan sebagian besar forum di dominasi kaum hawa, yang jarang suka kopi.
    “Saya mau kalian menulis apa-pun tentang baju yang sedang kalian pakai” tantangan tersebut seketika keluar dari mulut Mansyur Rahim, yang keseharian lebih dikenal dengan panggilan peria bugis. Diam kami serentak kali itu bagai jebakan untuk mau-tak mau mengaminkan.

    Malam-pun semakin panjang menyisakan tumpukan kertas yang berubah menjadi robekan atau gulungan, bagai menjadi bulan-bulanan pemilik-nya yang sejak sedari tadi tak memiliki kata yang tepat untuk menggambarkan apa-pun. Ini-pun seketika menjadi sulit, tak ada daya yang tersisa selain melamun tak karuan. Melamunkan pakaian yang kupakai baru saja berubah menjadi monster bermata tiga yang bisa menelan apa-pun, termasuk ide yang biasanya melompat-melompat kesana kemari meminta untuk dituliskan.

    “Sepertinya ini karma” ide yang kupunyai tiba-tiba berubah menjadi kata yang pantang disebut untuk sebagian khalayak ramai di dunia, karma. Beberapa minggu terakhir, ide untuk menulis topik-topik bermunculan di kepala, namun kemalasan yang menjadi hobi baru-ku menghalangi semuanya. Mungkin saja ini karma karena beberapa ide tulisan yang muncul tak ku sambut dengan perasaan 17-agustusan untuk menulis dan di saat diriku membutuhkannya mereka-pun persembunyian ditempat-tempat yang sangat sulit ku jangkau.

    Kring Kring Kring” suara alarm handphone berdering tak beraturan, menandakan jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Deringan itu mengalihkan semuanya, bahkan himne-cipta yang kulakukan untuk menemukan kata lain untuk menggambarkan pakaian, saatnya shalat beberapa rakaat. Ide-pun tak tertemukan, tetapi paling tidak alarm-nya dengan sukses membangunkan diriku. Menjaga untuk tetap terbangun sepertinya menjadi kata yang lebih cocok, bukan membangunkan.  

    1 jam 20 menit bertambah dari hitungan jam semula, namun tak banyak yang berubah selain kantong mata yang serasa lebih berat. Untuk mentaktisi semuanya, mendengarkan lagu menjadi pilihan terbaik kali ini, sepertinya. Shila On Seven menjadi deretan teratas list lagu yang kupunyai, namun tujuan utama malam ini bukan menggalau, cuma untuk membuka mata sedikit lebih lebar. Suara om Duta membahana tak bercela, namun mantra mereka sepertinya tak bekerja dengan baik malam ini, kantong mata sedang tidak akur dengan musik Shila On seven.

    Tak boleh seperti ini, tak akan ku biarkan harga diriku kalah dengan monster pakaian dan kantong mata sialan ini. Dengan cekatan ku pencet dengan sembarangan saja list lagu yang kupunyai, berharap dari pilihan random tersebut ada lagu yang menarik.

    Sunday is gloomy/ My hours are slumberless/ Dearest the shadows/ I live with are numberless/ Little white flowers will never awaken you/ Not where the black coach of sorrow has taken you. Ruang tiba-tiba menyibak kenangan, tentang lirik lagu yang menawan namun mematikan. Gloomy Sunday, lagu yang dinyanyikan oleh Billie Holiday ini ditengarai sebagai alasan banyak orang mengakhiri hidupnya. Tak main-main bahkan lagu in pernah dilarang di inggris dan amerika untuk dimainkan karena memicu bunuh diri massal. Bahkan yang lebih mengerikan lagi dua penyanyi yang pernah memopulerkan lagu ini termasuk Billie Holiday sendiri, mengahiri hidupnya dengan bunuh diri.  Okey? And what I should do next? Mematikan handphone, dan memulai tidur karena tulisan yang diminta oleh Manyur Rahim yang diharuskan 500 kata telah selesai, selamat malam monster pakain, kantong mata sialan, dan Gloomy Sunday yang bersejarah.  


  • I wayan Sutawan

    Bagian terpenting dari tubuh manusia bukanlah jantung atau otak namun imajinasi" (Einstein)
    Penelitian serupa tapi dengan maksud yang berbeda "untuk membuat mesin yang dapat membantu militer mengangkat senjata yang beratnya luar biasa" dilakukan oleh penelitih di USA. Di negara ini, dengan niat memberi makan istri dan anak "I wayan Sutawan" tampa ia sadari mengembangkan tehnologi yang sama dengan Pemerintah USA. Saya sangat percaya, bukan hanya negara ini diberkati tuhan dengan sumber daya Alam yang melimpah namun juga kemampuan yang luar biasa dari banyak pemudanya.Maka tidak salah ketika banyak tokoh di dunia meramalkan Indonesia akan menjadi negeri yang mendominasi dunia.
    Mari kita kembali kebeberapa tahun silam, saat bumi pertiwi belum dipanggil dengan sebutan Indonesia namun Nusantara. Kerajaan Majapahit dengan patih gajah madanya mengembangkan wilayah dan pengaruhnya sampai batas yang tak terduga sebut saja Singapura, Myanmar Kamboja, juga China. Belum lagi negara ini dahulu tempat lahirnya karya sastra yang dipuja dunia saat ini seperti I LA GALIGO yang menjadi naskah terpanjang di dunia. Maka tidak salah ketika beberapa toko sentral dunia menyebut Indonesia sebagai "Atlantis yang hilang".
    Saya sering membayangkan apa jadinya Indonesia jika dapat mengoptimalkan sumber Daya Alam juga Manusianya. Uranium contohnya sebagai komoditi m
    ahal yang sangat diganrungi oleh banyak negeri maju, terkubur banyak diperut tanah air, kisaran 60 ribu ton. Sebagai bahan bakar utama Nuklir, Uranium akan menghemar besar-besaran pengeluaran negara dalam pemamfaatan tenaga listrik untuk kebutuhan masyarakat. Hal ini disuppor dengan kondisi alam Indonesia yang hanya dua musim saja, sehingga resiko dapat diperkecil. Miskipun sebagian ketakutan dikarenakan Indonesia berada di "Ring of Fire" namun beberapa daerah dapat di jadikan alternatif.
    Melangkah ke Sumber Daya Manusia di Inodesia, saya meyakini hal ini tidak dapat di pandang sebelah mata di keranakan banyak pemuda Indonesia telah meunjukkan "tajinya" di Mata Dunia sebut saja beberpa orang yang telah mengharumkan nama negeri dengan memenangkan kompetisi Sains dan Tehnology bahkan beberapa diantara mereka menetap di luar negeri karena kemampuan mereka tidak di ragukan oleh banyak perusahan berskala Internasionla. I Wayan Sutawan, membuka lebih lebar mata saya hari ini, bagaimana bisa berbekalkan kempotensi STM dan peralatan yang terbatas dpat membuat tangan ropot yang di sambungkan lansung dengan sinyal otak manusia. Di tengah ketakjuban saya, ada rasa miris yang terkadang menyat, I Wayan Sutawan merupakan salah satu contoh dari banyak pemuda berbakat negeri ini yang tak dilirk oleh pemerintah. Sudah selayaknya "Sendi-Sendi vital" negeri ini di kembangkan dan di majukan oleh Anak bangsa seperti minyak, emas ataupun gas, bukanya di percayakan pada bangsa lain.
    Saya sampai detik ini menaruh Apreasiasi yang sangat besar pada Hugo Chavez (President Venezuela) yang memberanikan diri mendepak perusahan Asing dari Negaranya salah satu capaian pentingnya setalah mengnasionalisasikan adalah penerimaan di sektor energi yang meningkat pesat. Pertanyaanya kemudian adalah, apakah Jokowi seberani Hugo Chavez ? Mari kita mulai hari ini dengan Freeport yang jatuh tempo pelepasan sahamnya pada beberapa hari yang lalu, dan selanjutnya mari kita susul Venezuela dengan mengnasionalisasikan pula ExxonMobil OilIndonesia, PT Newmont Nusa Tenggara, BritishPetroleum, Chevron Corporation, British Gas International Ltd, Conoco Indonesia, Phillips Oil Company, Shell Companies in Indonesia, Total Indonesia E & P, Unocal Indonesia. Juga perusahaan asing yang menguasai pertelekomunikasian seperti PT Indosat, perusahaan aluminium PT Inalum Indonesia, perusahaan kelapa sawit Malaysia yang merusak hutan di Sumtera, Kalimantan, dan Papua.
  • Ibu-ku adalah Televisi

    Seorang anak terlahir dengan memanggil ibu pada sebuah kotak, yang manusia sebut televisi. Tiap hari anak itu menyusu banyak hal, kadang berita bohong, sinetron konyol atau permainan suami-istri. Ayah anak itu sekumpulan jejak yang meninggalkan bekas sesat di ruang tamu, kadang pula di kamar mandi lalu kemudian menghilang.
    Seisi rumah baginya hanyalah kaleng kosong, tak memiliki arti. Sehingga televisi selalu menjadi ibu yang sepertinya baik, menawarkan susu yang sebetulnya anggur. Umur adalah hal yang tak bisa ia hitung karena anak itu lebih pandai berciuman dari pada menghitung. Teman baginya adalah tempat praktik, praktik segala hal yang diajarkan ibunya si televisi, kadang praktik bercerita bohong, praktik adegan sinetron dan juga tak lupa praktik permainan suami-istri.
    Di sekolah ia tak banyak bertanya. Baginya bertanya adalah mengambil masalah. Namun ia ingat sebuah pertanyaan dari gurunya, karena hal itu ia dapat tepuk tangan satu kelas. Apa namanya membela bangsa ? Nasionalisme, si anak cepat menjawab. Apa namanya membela tanah air ? Patriotisme, si anak menjawab lebih cepat. Apa namanya membela agama ? Si anak diam mikir sejenak, lalu menjawab, Terorisme ibu guru. Seisi kelas tepuk tangan, termasuk ibu guru dengan bangga.
  • Surat untuk kawan Lama


    untuk kawan lama, bung LaOde Irfan Herdiansyah
    Bagaimana kabar makassar hari ini? Bagaimana kabar masyarakat pesisir pantai Losari yang terakhir kau coba bela? Maaf kawan, lama tak menyapamu lagi melalui tulisan-tulisan atau perbincangan keritis mengenai negara kita. Bukan nurani tak ada lagi, tolong jauhkan perasangka itu, namun terkadang langkah prioritas dan massif perlu kita lakukan dalam hidup, dan saya sedang mencoba melakukannya dalam hidup saya.
    Namun seperti bajing yang lama tak lagi melompat, saya tiba-tiba merindu teriakan yang biasa kita lakukan bersama di jalan-jalan Makassar. Malam ini sungguh terlambat sekali saya mencermati situasi, seakan tak pernah habis saja masalah mencuat di negara yang sebagian orang percaya atlantis ini. Fokus saya malam ini tentang MKD dan DPR akhir tahun kemarin, saya patut mengkaui ketidak cekatan saya mendapatkan informasi yang sempat mencengankan ini. Tak henti malam ini saya mebolak-balik halaman youtube dan beberapa refrensi yang saya punyai mengenai masalah ini. Selain miris sebab kembali masalah ini mencuat di karenakan "dugaan" penghianatan onknum petinggi negara yang telah di percaya rakyat kembali muncul.

    Saya menyadari kesan miris pasti kita rasakan bersama, namun ada sebuah ilustrasi yang muncul dalam kasus ini yakni "Orang Baik Negeri Ini belum Habis Bro". Mari mengambil Akbar Faizal sebagai contohnya, selain beliau merupakan orang yang berasal dari kampung halaman kita, juga ke gigihannya dalam meng-golkan aspirasi rakyat pada kasus ini patut mendapat apresiasi yang besar. Kepiawaian beliau dalam menutur argumen dengan cermat, tajam, dan cerdas namun juga diimbangi oleh sopan santun yang penuh dengan perasaan bersahabat membuat saya merindukan aura forum aspirasi tempo menjadi penjabat lembaga ke-mahasiswaan.

    Menjadi bagian masyarakat yang lebih luas ternyata lebih jauh sangat kompleks dari pada mengurus tatanan kenegaraan kampus, namun tak ada yang lebih saya sukuri sekarang selain mengambil bagian bersama-mu mengangkat genggaman ke langit sewaktu kuliah kemarin dikarenakan saya sekarang menyadari menjadi agent of change ternyata tak cukup di kampus namun kita butuh merubah hal yang berskala lebih besar dan juga lebih melibatkan banyak orang tertindas, membangun Negara ini contohnya.


    Kawan, tidak capek kah kau melakukan pergerakan dalam sektor hilir? mari melakukan yang lebih besar, mari melakukan pergerakan dalam sektor muara hulu namun tentu saja dengan lebih banyak tantangan bukan lagi iming-iming beasiswa ataupun angka bagus di ijazah yang menjadi cobaan seperti di kampus kemarin, namun surga duniawi bro! harta, tahta dan wani*a. Beberapa kawan telah mendahului kita melakukan pergerakannya,Nur Indah Sari Pratiwi dan Itha Rista Suwardi yang sebentar lagi menjadi pondasi negeri ini, menjadi ibu dan pendidik generasi pelanjut negeri ini. Bagaimana dengan kita? Apa agenda berikutnya ?
  • Doa (Lagi)


    Kita-pun pada akhirnya akan memahami bahwa pencipta adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan dalam menentukan nasib tapi bukankah telah dijanjikan kepada manusia bahwa usaha menjadi tekad yang dapat mempengaruhi hal tersebut.
    Menjadikan Tuhan sebagai penentu nasib, tak ayal membuat sebagain dari kita lupa akan perihal tekad dan usaha. Saya selalu percaya, Tuhan-pun menakar usaha kita dalam menentukan nasib manusia. Maka tetaplah percaya bahwa, InsyaAllah, Hasil tidak akan menghianati proses.
    Tak ada yang lebih baik teriring selain doa atas usahamu hari ini, itulah sebaik-baiknya dan sekeras-kerasnya usahaku. Seorang kawan pernah berkata kepada saya, bahwa Tuhan lebih menyukai mendengar doa kita dibandingkan pujian pada-nya, karena dengan doa, kita kemudian menyadari dengan sangat akan kekurangan dan keterbatasan kita sebagai manusia yang tak bisa lepas darinya, sang pencipta. Berdoa menjadi pelipur lara bahwa biarpun tak ada pundak untuk bersandar selalu ada tempat untuk bersujud.
    Ini nampak jauh lebih romantis bukan, kisah kasih seorang hamba dengan tuhannya, untuk mendoakan yang bukan dirinya namun hamba lainnya. Semoga sujud-mu adalah bisikan doa yang dapat didengar oleh langit. 
  • Merasakan Genangan dan Kenangan-Perjalanan Setahun Di desa diatas Awan.


    Hujan selalu saja menjadi misteri. Ia tak hanya membawa batang-batang dirinya yang serupa genangan, namun kamu pula yang berwujud menjadi kenangan. Saya-pun selalu menjadi pria bodoh yang masih mempercayai tahayul-dimana di antara hujan selalu ada lagu yang hanya bisa didengarkan oleh orang yang sedang rindu, beruntunglah, diri-mu hanya berjarak sejengkal, kali-ini. Namun entah, rindu ini masih terasa sesak.

    Kahaya, 1600 mdpl, dimana mandi adalah pilihan paling buruk diwaktu pagi karena dingin air-nya manyiksa setengah mati. Tawa anak yang tak pernah berujung henti, saat diri kami-saya dan 9 kawan lainnya menyatu dalam permainan asal yang kami spontan peragakan. Dari titik ini, saya merasakan perasaan yang mungkin saja sama dengan perterpan- tokoh fiksi ciptaan J. M. Barrie- alasan-nya mengapa menjadi dewasa adalah hal yang paling tak ia inginkan, mungkin saja, karena banyak tawa lepas itu.

    Bermodal-kan jaket yang telah dahulu basah karena hujan grimis dipagi tadi, menemani pinta terletak-kan pada tahun yang baru. Tak banyak doa ter-antarkan, tak ingin menjadi sendiri di tahun berikutnya adalah yang utama dan pertama meloncat begitu saja, seperti kata ibu, jujur selalu menjadi kata pertama. Sembari tak ingin mencampuri pinta-mu pada tuhan, Amin-pun menjadi kata yang tak lupa ku sisipkan pada doa-mu, apa-pun itu.

    Tahun baru-pun datang, namun masih pada tempat yang sama. Tak ingin rasa-nya beranjak jauh dari kahaya, diri-Pribadi menemukan banyak hal yang selama ini hanya menjadi imaji, tempat tuk pulang. Kesederhanaan, dimana ukuran dari segalanya (persahabatan, kekeluargaan, senyuman, pertolongan) bukan-lah diukur dari seberapa banyak koin yang masuk di saku celana. Pintu rumah yang jarang di tutup, biarpun pemiliknya berkujung pergi jauh kesanak keluarga menjadi misteri lainnya, mengapa semua tetap aman-aman saja? mungkin karena (juga) konsep materi yang mereka tak kenal.

    Exchange Theory, dimana hidup adalah pasar raksasa. Hubungan Individu dengan lainnya di ukur dari seberapa banyak ke-utungan yang didapatkan. Konsep social yang sedang trend tersebut, tak lebih hanya menjadi teori di atas kertas putih yang siap dilemparkan ke keranjang sampah karena sama sekali tak berfungsi di tempat ini. Saya-pun belajar banyak, bahkan untuk menjadi manusia yang lebih berguna.

    Syukur-pun terlintas, disetiap langkah pulang yang terasa berat ke-esokan harinya
  • Pengunjung

    Akhmad Saputra Syarif. Powered by Blogger.

    Daftar Teman